Halo, Tuan Muda
Kemarin (atau kemarinnya lagi ya?) kamu tidak datang.
Masih di kampung halaman kah?
Atau sedang ada keperluan lain?
Dimanapun kamu, semoga perjalananmu kembali ke rumah dimudahkan oleh-Nya ya.
Apa? Tidak, aku tidak merindukanmu.
Aku hanya ingin melapor.
Terkait pena hijau milikku, kau ingat?
Iya, pena yang itu, yang selalu kau pinjam.
Ketika aku tahu kau tak akan datang malam itu, aku merasa lega.
Mungkin karena aku tak harus merasakan gugup? Atau mungkin aku hanya belum siap. Entahlah, aku tak peduli.
Tapi, Tuan, rasa legaku tak berlangsung lama.
Ketika kami ditugaskan menulis, seseorang mendatangiku.
Apa? Kau bisa menebak?
Ya benar, dia mendatangiku untuk meminjam pena.
Kau tahu? Aku jadi bimbang.
Aku membawa 2 pena dan 1 pensil malam ini.
Aku memutuskan untuk menggunakan pensil saja agar mudah dihapus.
Lalu tersisa 2 pena yg salah satunya harus kupinjamkan pada dia.
Tentu saja aku bingung.
Salah satu pena itu adalah pena hijau(mu).
Lalu salah satu yang lainnya adalah pena favoritku.
Sebut saja pena itu Pulpen Mahal. Bukan, bukan karna harganya yang terlalu tinggi. Aku hanya ingin memberinya nama Pulpen Mahal ........
Sebut saja pena itu Pulpen Mahal. Bukan, bukan karna harganya yang terlalu tinggi. Aku hanya ingin memberinya nama Pulpen Mahal ........
Sebenarnya aku tak ingin mengeluarkan pena hijau(mu).
Kau pasti tahu alasannya.
Pena itu kubawa khusus untukmu.
Takkan kubiarkan orang lain menggunakannya.
Tapi, Tuan, ada yang salah dengan sistem koordinasiku malam ini.
Otakku menyuruh tanganku mengeluarkan Pulpen Mahal, tapi kau tahu apa? Yang dikeluarkan oleh tanganku adalah pena hijau(mu).
Saat aku menyadarinya adalah saat dimana pena hijau(mu) itu telah digunakan untuk menggores kertas miliknya.
Terlambat bukan?
Tak mungkin aku memintanya kembali dan menukarnya dengan Pulpen Mahalku kan?
Maafkan aku, Tuan.
Ya, aku tahu tidak seharusnya aku meminta maaf, kan?
Aku memang konyol.
Kalau begitu, sekarang aku ingin minta maaf karna sikap konyolku ini, Tuan.
Ah ya, aku teringat sesuatu.
Sebentar lagi tanggal 30 Juli kan?
Tidak, aku tidak ingin meminta izin untuk menjadi pengucap yang pertama.
Bagiku ucapan tidaklah berharga.
Aku memohon izin untuk menjadi pendoa pertamamu, boleh?
Baiklah, sampai bertemu tanggal 30 ya!
Ah tidak, kuharap kita bertemu sebelum tanggal 30 datang.
Tidak, ini bukan rindu, mengerti?
Tapi kumohon datang, ya?
Jangan kecawakan aku, Tuan.
Sudah dulu ya, Tuan.
Assalamualaikum.
Cibinong, 25 Juli 2015 - 01.35 WIB


2 comments:
NGAKAKAKK WAKAKAKAKAKAKK ini latar nya di sg apa lia?? adeuh uyaa uyaa
pfffttttttttttttt sebut merek bgt?!?!?!?!
Post a Comment